Malam
ini kututup dengan mendengarkan Biar Menjadi Kenangan-nya Reza Artemevia ft.
Masaki Ueda yang sejauh ini sudah ku dengarkan selama sepuluh kali
berturut-turut.
Biasanya,
seseorang mendengarkan lagu sesuai dengan keadaan mereka, ya?
Sebenarnya
keadaanku tak separah lirik lagu dari lagu tersebut.
Tak
separah itu. Berarti, masih ada parahnya, ya? Tapi sedikit, begitu?
Tetes
airmata ku tak tertahan lagi
Menanti kepastian tentang kita
Kau
masih juga bersamanya
Masih
mencintainya
Maafkanlah
sayangku atas keadaan
Kamu
tak pernah jadi kekasihku
Wajahnya
selalu terbayang
Saat
kau di sisiku
Aku
dan kamu takkan tahu
Mengapa
kita tak berpisah
Walau
kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan
biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang
terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada
Di
sini
Ku
beri segalanya semampunya aku
Meski
cinta harus terbagi dua
Mungkin kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku
Aku
dan kamu takkan tahu
Mengapa
kita tak berpisah
Walau
kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan
biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang
terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada
Di
sini
Oh pasti kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku
Reza
Artamevia ft. Masaki Ueda - Biar Menjadi Kenangan
Seperti
yang kita lihat, ada beberapa kata yang ku tebalkan. Ku perjelas. Ku tegaskan.
Ya, kata-kata yang menggambarkan keadaanku sekarang.
Jika
dilihat tulisan yang ku beri warna latar kuning pada kata-kata
"mungkin" dan "pasti". Pada bait awal, terdapat kata
"mungkin". Berarti, subjek sedang ragu dan memilih untuk berasumsi
seperti ini. Tetapi, di bait akhir, terdapat kata "pasti" dengan
kalimat yang sama pada bait awal. Di sini terlihat bahwa, asumsi awal dapat
berubah seiring dengan berjalannya waktu dan di akhir, subjek sudah mematenkan
asumsi nya karena sudah terbukti oleh perilaku orang kedua yang dijelaskan pada
bait-bait sebelumnya. Ya, si subjek sudah sadar. Dan menyerah dengan memikirkan
kata "pasti". Di akhir ia baru menyadari keadaan tersebut.
Apakah
aku seperti ini, kepadamu?
Apakah
aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata jalan yang kupilih salah?
Apakah
aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata perjuanganku selama ini sia-sia?
Apakah
aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata bukan engkau orangnya?
Sesungguhnya
aku mempercayaimu..