Kamis, 09 Januari 2014

"Biar Menjadi Kenangan"





Malam ini kututup dengan mendengarkan Biar Menjadi Kenangan-nya Reza Artemevia ft. Masaki Ueda yang sejauh ini sudah ku dengarkan selama sepuluh kali berturut-turut.


Biasanya, seseorang mendengarkan lagu sesuai dengan keadaan mereka, ya?

Sebenarnya keadaanku tak separah lirik lagu dari lagu tersebut.

Tak separah itu. Berarti, masih ada parahnya, ya? Tapi sedikit, begitu?


Tetes airmata ku tak tertahan lagi
Menanti kepastian tentang kita
Kau masih juga bersamanya
Masih mencintainya

Maafkanlah sayangku atas keadaan
Kamu tak pernah jadi kekasihku
Wajahnya selalu terbayang
Saat kau di sisiku

Aku dan kamu takkan tahu
Mengapa kita tak berpisah
Walau kita takkan pernah satu

Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada
Di sini

Ku beri segalanya semampunya aku
Meski cinta harus terbagi dua
Mungkin kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku

Aku dan kamu takkan tahu
Mengapa kita tak berpisah
Walau kita takkan pernah satu

Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada
Di sini

Oh pasti kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku

Reza Artamevia ft. Masaki Ueda - Biar Menjadi Kenangan


Seperti yang kita lihat, ada beberapa kata yang ku tebalkan. Ku perjelas. Ku tegaskan. Ya, kata-kata yang menggambarkan keadaanku sekarang.

Jika dilihat tulisan yang ku beri warna latar kuning pada kata-kata "mungkin" dan "pasti". Pada bait awal, terdapat kata "mungkin". Berarti, subjek sedang ragu dan memilih untuk berasumsi seperti ini. Tetapi, di bait akhir, terdapat kata "pasti" dengan kalimat yang sama pada bait awal. Di sini terlihat bahwa, asumsi awal dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu dan di akhir, subjek sudah mematenkan asumsi nya karena sudah terbukti oleh perilaku orang kedua yang dijelaskan pada bait-bait sebelumnya. Ya, si subjek sudah sadar. Dan menyerah dengan memikirkan kata "pasti". Di akhir ia baru menyadari keadaan tersebut.

Apakah aku seperti ini, kepadamu?

Apakah aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata jalan yang kupilih salah?
Apakah aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata perjuanganku selama ini sia-sia?
Apakah aku baru sadar di akhir nanti bahwa ternyata bukan engkau orangnya?


Sesungguhnya aku mempercayaimu..


Rindu


Entah di mana dirimu berada..
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu

Apakah di sana kau rindukan aku?
Seperti diriku yang selalu merindukanmu

Selalu merindukanmu

Ari Lasso – Hampa


Ah, baris pertama seharusnya tak seperti itu, bukan? Aku jelas tahu engkau berada di mana. Ya, 1329 km dari kota ku. Walaupun pulau kita berbeda, bukan berarti perasaanku terhadapmu berbeda seperti yang dulu, kan?

Yang dulu memangnya seperti apa? Yang itu, dikala bersamamu, dikala aku murung, senyum lebar tetap terpancarkan dengan manisnya. Yang itu, dikala bersamamu, mataku menjadi berbinar-binar. Yang itu, dikala bersamamu, ku kerapkan seluruh perhatianku kepadamu.

Sudah paham, bukan?


Selama aku masih bisa berjalan
Masih sanggup bernafas
Ku akan selalu memujamu

Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana?
Dengarkan aku
Ku merindukanmu

D’masiv – Merindukanmu


Ya, ku merindukanmu.

Lalu, apa yang harus ku lakukan agar kau mengetahuinya? Berkata jujur, kah? Atau dengan berbagai macam kode, begitu ya?

Biarlah aku memendam rasa rindu ini. Biar langit malam yang tak ada bintangnya ini yang menjadi saksi. Biar angin yang membawa pesan, menuju mimpi-mimpimu dan memelukmu.

Sesungguhnya, akupun tak pernah memelukmu..

Akankah seperti itu rasanya? Jujur, akupun tak tahu..

Dan jadikan engkau orang pertama yang membuatku merasakan hal itu.




Aku rindu..